KEDIRI – Aksi demonstrasi yang digelar oleh sekitar 500 orang menuntut pelaksanaan Pemilihan Walikota (Pilwali) di KPUD Kota Kediri berakhir ricuh. Akibatnya, dua demonstran harus menjalani perawatan, sementara 3 lainnya diamankan karena dianggap sebagai provokator.

Kericuhan bermula saat aparat kepolisian yang melakukan pengamanan atas demo tersebut menerjunkan pasukan anti huru-hara (PHH), setelah jalannya demo dianggap sudah tak dapat dikendalikan.

Dalam bentrokan tersebut, 2 demonstran yang tetap berlaku beringas, dengan melakukan penyanderaan terhadap masyarakat yang melintas disela aksi unjuk rasa, petugas terpaksa melumpuhkan dengan tembakan gas air mata, dan terpaksa harus dilatrikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Semuanya yang tergambar dalam ringkasan diatas, merupakan
jalannya simulasi pengamanan pilwali yang digelar oleh pasukan gabungan antara Polresta Kediri serta Sat Brimob Kompi C Polda Jatim. “Ya ini salah satu persiapan yang kami lakukan, karena memang pemilihan walikota sudah sangat dekat. Semoga dengan persiapan ini, pada saatnya nanti kami sudah siap bertugas dengan segala kemungkinan yang terjadi,” kata Kapolres Kediri Kota AKBP Ratno Kuncoro di lokasi,Sabtu (6/7).

Mengenai adanya simulasi penculikan terhadap masyarakat dan dilakukan penjarahan, Ratno mengaku hal tersebut sebagai antisipasi, jika para demonstran sudah kelewat batas dengan meresahkan masyarakat.

“Semua kemungkinanbisa terjadi, termasuk di Kota Kediri. Makanya lebih baik kamibersiap, daripada saat benar terjadi kami kelabakan,” tegasnya.

Untuk diketahui, dalam simulasi pengamanan Pilwali tersebut, selain dihadiri Muspida Kota Kediri, juga dihadiri beberapa bakal calon walikota serta pimpinan partai politik se-kota Kediri.