Home / Berita Terkini / Kartini, Ibu rumah tangga dan ketahanan keluarga di tengah Pandemi

Kartini, Ibu rumah tangga dan ketahanan keluarga di tengah Pandemi

R.A Kartini dianggap sebagai salah satu representasi perempuan Indonesia melawan ketidakadilan relasi gender dijamannya. Sosok perempuan yang mempertanyakan “kodratnya” di sumur, dapur dan kasur. Berusaha berbuat lebih dengan pemikiran-pemikiran yang dianggap tabu dijamannya.

21 April 2020, kita memperingati hari Kartini di tengah ancaman Pandemi covid 19 dimana kasus terkonfirmasi positif yang terus menerus naik.  Beberapa ahli matematika memprediksi pandemi di Indonesia akan berakhir pada pertengahan Juni, akan tetapi ahli ekonomi mengatakan jika efek dari pandemi akan terasa sampai akhir tahun 2020. Artinya masih 8 bulan dari hari Kartini.

Bagaimana nasib perempuan Indonesia? Nasib ibu rumah tangga ?

Himbauan “dirumahaja” menuntut perempuan untuk bekerja lebih keras lagi (double bourden). Membagi waktu untuk bekerja, menjadi guru untuk anak-anak dan mensiasati ekonomi keluarga agar bisa bertahan ditengah pandemi. Seorang ibu rumah tangga tiba-tiba harus menjadi guru bagi anak-anaknya dengan tuntutan menguasai seluruh mata pelajaran sekolah, membantu menyelesaikan PR-PR yang setiap hari datang.  Ibu rumah tangga juga harus memikirkan bagaimana asupan gizi keluarga ditengah ancaman pandemi, memastikan anggota keluarga selalu sehat. Menjadi koki yang handal dengan kreasi menu-menu masakan dan kudapan keluarga.   Belum lagi efek terhadap ekonomi keluarga yang membuat ibu rumah tangga memikirkan mendapatkan penghasilan tambahan atau bahkan menggantikan penghasilan utama keluarga karena suami menjadi individu yang terdampak pandemi. Dalam minggu-minggu ini bisa kita lihat  di berbagai media sosial aktivitas perempuan melakukan bisnis online dengan memasarkan produk keluarga, kerabat atau teman mengalami peningkatan. Hal itu sebagai bentuk kreativitas ibu rumah tangga dalam ketahanan keluarga dibidang ekonomi. 

Ancaman kekerasan dalam rumah tangga  (KDRT) berpotensi muncul  jika tidak terjadi kerjasama positif dengan suami dalam berbagi peran-peran domestik seperti pengasuhan anak dan menyelesaikan problem ekonomi keluarga. Menghadapi pandemi covid-19, ibu rumah tangga juga melakukan tindakan-tindakan pencegahan dalam keluarga terhadap ancaman covid-19.  Akan menjadi percuma ikhtiar  seorang ibu rumah tangga melakukan pencegahan terhadap ancaman virus corona  didalam rumah tetapi tidak ada kepatuhan dari sang bapak untuk  anjuran social distancing. Ibu dan anak akan menjadi individu yang rentan tertular covid 19. Karenanya, menjadi tugas bersama yang harus saling mendukung bagaimana menjaga keluarga agar tidak tertular dan menulari covid-19.

Himbauan “dirumahaja” membuat keluarga Indonesia memaknai kembali arti ikatan keluarga, meningkatkan komunikasi antara anggota keluarga dan berdiskusi kembali terhadap visi misi keluarga. Penguatan ketahanan keluarga ditengah pandemi bisa dilakukan dengan pembagian peran domestik antara suami dan istri yang setara, tidak ada yang lebih dominan satu dengan yang lainnya. Maka, tidak benar jika perempuan hanya menjadi peran pelengkap, figuran atau istilah lainnya. Suami dan istri, laki-laki dan perempuan adalah manusia yang saling melengkapi. Peran domestik bisa dibagi bersama pasangan dan kolaborasi  bersama anggota keluarga  agar tercipta kebahagiaan keluarga. Karena ibu rumah tangga adalah manajer keluarga, garda terdepan dalam ketahanan keluarga. Dan, keluarga merupakan garda terdepan dalam pencegahan covid-19.

Selamat hari Kartini 2020 dengan harapan agar bangsa Indonesia bisa segera melewati pandemi covid-19

Tentang admin

Lihat Juga

SUBANI, PENGGIAT PEMILU YANG TAK PERNAH PUTUS ASA SILATURRAHIM KE KPU KOTA KEDIRI

KPU Kota Kediri- Bagi penyelenggara pemilu di Jawa Timur tentunya tidak asing dengan nama SUBANI, …